Apakah Di Bandung Raya Terdampak Heat Wave Atau Gelombang Panas? Ketahui Penjelasan BMKG

Heat Wave atau gelombang panas dikabarkan terasa di sebagian negara, seperti India. Dilaporkan, cuaca panas di sana malahan menyebabkan korban jiwa. Lalu, apakah gelombang panas juga akan dirasakan di Jawa Barat, terutamanya di Bandung Raya?

Menurut Forecaster on Duty (FoD) BMKG, Stasiun Geofisika Bandung, Yuni Yulianti, kondisi cuaca yang relatif panas di wilayah Bandung, umumnya di Jawa Barat, dinilai masih dalam kategori normal. Ketika ini, berada pada akhir musim peralihan, memasuki musim kemarau.

“Akhir Mei memasuki awal Juni ini, di Bandung terutamanya masih masuk pada jangka waktu akhir masa peralihan dari spaceman penghujan ke kemarau,” katanya ketika dihubungi, Kamis, 30 Mei 2024.

Menurut catatan BMKG, katanya, pada jangka waktu April-Mei suhu maksimum di wilayah Bandung Raya berada di kisaran 31,6-32 derajat, akibat dari sebagian faktor antara lain gerak semu matahari dan kondisi tutupan awan.

Posisi matahari ketika ini berada tak jauh dari ekuator di belahan bumi utara, menyebabkan wilayah ekuator menerima penyinaran matahari yang maksimum. Kondisi hal yang demikian juga berhubungan dengan tutupan awan di wilayah Bandung Raya teramati mulai menipis.

Kecuali itu, sambung Yuni, suhu panas juga disebabkan oleh faktor kelembapan dan dominasi angin timuran.

“Jadi untuk yang sebagian hari ini terasa panas karena posisi matahari atau gerak semu harian matahari, kemudian tutupan awannya yang sudah mulai sedikit, dan kelembaban yang juga sudah mulai rendah,” katanya. “Kondisinya, masih dalam kategori normal tak termasuk ekstrem,” tegas Yuni.

Dengan demikian, menurut pengamatan BMKG, wilayah Bandung tak terdampak heat wave atau gelombang panas ekstrem. “Betul (tak terdampak),” katanya.

Prediksi Kondisi Kemarau
Walaupun Bandung Raya masih dinyatakan berada di akhir musim peralihan, melainkan sejumlah tempat lain di Jawa Barat sudah memasuki awal musim kemarau seperti di bagian utara.

“Contohnya Kuningan, Indramayu, Cirebon, sudah memasuki awal kemarau. Jadi, di April kemarin dimulai dasarian III,” katanya.

Bandung diprediksi baru memasuki musim kemarau pada awal pekan bulan Juni. Walaupun hujan diprediksi sesekali masih turun, Yuni mengatakan, berdasaran dinamika atmosfer laut serta suhu permukaan air laut di wilayah Indonesia, akibat enso baik El Nino ataupun La Nina di musim kemarau diprediksi normal.

“Suhu maksimum di Juni-Juli-Agustus diprediksi masih kisaran normal, di Jawa Barat itu 30-35 derajat celcius. Kota Bandung di kisaran antara 30-34 derajat. Sebelumnya, suhu maksiumum pada Oktober 2023 pernah mencapai 36,8 derajat Celsius,” katanya.

Walaupun, BMKG juga mencermati ada indikasi akibat La Nina di ujung musim kemarau sekitar Oktober 2024 akan datang. Walaupun dalam akibat yang lemah.

“Tak terlalu signifikan terhadap cuaca. Biasanya musim kemarau normal,” jelasnya.

“Tetapi suhu minimum di Juli Agustus itu dingin, karena ada udara yang dingin dan kering dari Australia. Suhu dinginnya diprediksi akan terasa di 17-18 derajat. Pagi hari dingin, siang hari panas,” Yuni melanjutkan.

Masyarakat malahan direkomendasikan menjaga kesehatan karena kondisi cuaca sangat bisa berdampak pada kondisi kesehatan.

“Memperbanyak minum air putih dan mengonsumi buah sayur, juga untuk mengurangi kesibukan di luar ruangan, seandainya seharusnya berkesibukan diimbau menggunakan pelindung seperti topi, payung,” katanya.